Al-Qur’an, Mukjizat Abadi
Kembali kita membahas tentang mukjizat
Al-Quran, tapi kali ini kita bukan membahas tentang mukjizat alam,,tapi
mukjizat dari tata bahasanya.
Bagi jiwa yang beriman, sesungguhnya
al-Qur’an adalah anugerah yang agung dan kenikmatan yang amat besar.
Namun, banyak di antara kita yang tidak menyadari besarnya kenikmatan
ini.
Diakui atau tidak, keseharian kita membuktikan bahwa kita
masih jauh dari al-Qur’an. Mari kita introspeksi diri. Berapa ayat yang
kita baca setiap hari? Dari ayat yang kita baca itu, berapa yang bisa
kita tadabburi? Mana dari ayat-ayat itu yang menggugah kerinduan kepada
Allah dan membangkitkan semangat kita untuk berlomba dalam kebajikan?
Oleh
karena itu, wahai jiwa yang beriman, mari kita mengenali sifat-sifat
al-Qur’an agar kecintaan bersemi dalam jiwa lalu membuahkan ketundukan.
Al-Qur’an
adalah mukjizat, bahkan mukjizat terbesar sepanjang masa. Sebab,
al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah). Al-Qur’an bukanlah makhluk
yang dicipta, bukan pula sekadar kandungan makna dari kalam-Nya. Akan
tetapi, makna sekaligus lafadz al-Quran seluruhnya adalah ucapan Allah
SWT. Dari Allah SWT lah al-Qur’an berasal, kemudian didengar oleh Jibril
dan disampaikan kepada Rasulullah.
Al-Qur’an bukan ucapan
makhluk. Ucapan Allah SWT tidak serupa dengan ucapan makhluk apa pun.
Allah berbicara, mendengar, dan melihat sesuai dengan keagungan dan
kemuliaan sifat-sifat-Nya yang Maha sempurna. Manusia juga berbicara,
mendengar, dan melihat, tetapi sesuai dengan sifat-sifat mereka yang
penuh kelemahan dan kekurangan.
Karena al-Qur’an adalah
kalam-Nya, berarti al-Qur’an adalah kalam yang agung dan sempurna. Tidak
ada kebatilan, kekurangan, kedustaan, kezaliman, dan kesia-siaan di
dalamnya. Seluruhnya kebenaran dan adil, mengandung makna yang dalam dan
hikmah yang begitu agung, penuh manfaat, dan memberikan petunjuk ke
jalan yang benar serta kehidupan yang penuh kebahagiaan.
Al-Qur’an
telah diakui sebagai kalamullah oleh para penentang Islam terdahulu,
yaitu para tokoh kekufuran dari bangsa Quraisy. Al-Walid bin al-Mughirah
atau ‘Uqbah pernah diutus kaumnya untuk berunding dengan Rasulullah SAW
perihal al-Qur’an dan supaya Rasulullah SAW menyudahi dakwah beliau.
Ia
berkata, “Wahai Muhammad, apa maumu dengan seruanmu? Kalau engkau
mencari kekuasaan, akan kami beri. Kalau engkau menginginkan harta agar
menjadi orang Arab terkaya, akan kami himpun harta untukmu. Jika engkau
mengimpikan wanita, akan kami pilihkan gadis-gadis yang elok jelita.”
“Hanya itukah yang ada pada kalian? Kalau begitu, dengarkanlah!”
Rasulullah SAW membacakan permulaan surat Fushshilat kepada Abu al-Walid,
“Haa
Miim. (Ayat ini) diturunkan dari Dzat Yang Maha Rahman dan Rahim. Kitab
yang dirinci ayat-ayatnya dengan terang, bacaan yang berbahasa Arab,
diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerti. (Kitab) yang membawa
berita gembira sekaligus peringatan. Namun, kebanyakan mereka berpaling,
tidak mau mendengar. Mereka berkata, ‘Hati kami dalam keadaan tertutup
dari seruan kalian. Telinga kami tersumbat, dan di antara kami dan kamu
ada dinding yang menghalangi. Maka dari itu, berbuatlah, kami pun akan
berbuat.’
Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti
kalian, tetapi aku mendapatkan wahyu bahwa yang wajib kalian sembah
hanya Allah. Maka dari itu, tempuhlah jalan yang lurus menuju Allah dan
mintalah ampunan dari-Nya. Sungguh celaka orang-orang yang berbuat
syirik, yaitu mereka yang tidak mau menunaikan zakat dan mengingkari
hari kiamat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh
akan mendapatkan pahala yang tiada henti.’
Katakanlah,
‘Sesungguhnya apakah pantas kalian ingkar kepada Dzat yang telah
menciptakan bumi hanya dalam dua hari, lalu kalian menjadikan bagi-Nya
tandingan-tandingan? Itulah Pemilik alam semesta.’ Dialah pula yang
telah menciptakan di muka bumi gunung-gunung yang kokoh. Allah
melimpahkan berkah padanya; memilih dan menentukan berbagai makanan
pokok (bagi penghuninya) selama empat hari. (Penjelasan ini adalah
jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
Kemudian, Dia menuju
langit dalam keadaan langit berupa asap. Lalu Dia berkata kepadanya dan
kepada bumi, ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku, dengan rela
atau dengan terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan penuh
kerelaan.’ Dia pun menjadikannya tujuh langit dalam dua hari dan
mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dengan
bintang-bintang yang cemerlang dan Kami pelihara dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
Jika
mereka berpaling, katakanlah, ‘Aku ingatkan kalian dengan petir,
seperti petir yang membinasakan kaum ‘Ad dan Tsamud’.” (Fushshilat:
1—13)
Setelah mendengar ayat-ayat yang begitu dahsyat menyambar
sanubari, Abu al-Walid memandang Rasulullah SAW dan mengatakan, “Sudah,
cukup!”
Pada kejadian lain, al-Walid Ibnul Mughirah datang kepada
Rasulullah lalu beliau membacakan al-Qur’an kepadanya, seolah-olah dia
luluh dengan bacaan itu. Ketika Abu Jahl merasa khawatir terhadap
al-Walid dia pun menegurnya, al-Walid menjawab:
“Wahai kaumku,
aku baru saja mendengar sebuah ucapan yang menakjubkan. Ucapan itu bukan
syair, bukan mantra-mantra, dan tidak seperti ucapan yang biasa kita
bicarakan. Sungguh, pada ucapannya ada kelezatan. Begitu elok, bagai
pohon rindang yang bertaburan buah…. Ucapan itu demikian tinggi tiada
terungguli.”
Itulah kalamullah, mukjizat yang tidak lekang oleh
masa, yang selalu ada dan membuktikan kebenaran Islam, risalah tauhid,
dan risalah keadilan yang dibawa oleh Nabi terakhir, Muhammad n.
Ya,
al-Qur’an adalah mukjizat. Kata mukjizat berasal dari kata i’jaz yang
berarti melemahkan. Sebab, al-Qur’an telah membuktikan kelemahan para
penentang dan pengingkarnya. Allah telah menantang orang-orang kafir
Quraisy untuk mendatangkan sepuluh surat yang bisa menandingi al-Qur’an.
Namun, mereka tidak mampu walaupun mendatangkan satu surat saja. Allah
SWT berfirman,
ﮋ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﮊ
“Katakanlah,
‘Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan
al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa
dengannya sekalipun satu sama lain bahu-membahu’.” (al-Isra’: 88)
Allah k juga berfirman,
ﮋ ﭑ ﭒ ﭓﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﮊ
“Bahkan,
mereka mengatakan, ‘Muhammadlah yang telah merekayasa al-Qur’an.’
Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang
dibuat-buat untuk menandinginya, dan panggillah orang-orang yang kalian
sanggup (memanggilnya) selain Allah jika kalian orang-orang yang
benar’.” (Hud: 13)
Mereka tidak sanggup membuat surat tandingan,
padahal dari sisi kemampuan berbahasa, mereka adalah jagonya. Lisan
mereka fasih dan tinggi balaghah-nya. Oleh karena itu, para ulama
menyebutkan bahwa al-Quran adalah mukjizat.
Kalamullah sebagai mukjizat memiliki kekhususan dan keistimewaan, di antaranya adalah:
1. Al-Qur’an mencakup lafadz-lafadz dari seluruh suku dan kabilah bangsa Arab
Di
antara lafadz al-Qur’an ada yang berasal dari bahasa Quraisy, bahasa
Hudzail, bahasa Tamim, bahasa Hawazin, bahasa penduduk Yaman, bahasa
Himyar, dan lain-lain.
‘Umar bin al-Khaththab a pernah berkhotbah
lalu membacakan surat an-Nahl ayat 47. Tatkala sampai pada kata
takhawwuf, ‘Umar menghentikan khotbahnya sejenak, lalu bertanya kepada
hadirin, “Apa takhawwuf ?” Semua terdiam.
Tiba-tiba, bangkitlah
seorang lelaki dari suku Hudzail. Katanya, “Wahai Amirul Mukminin,
takhawwuf dalam bahasa kami adalah tanaqqush, sehingga maknanya ‘Apakah
mereka yang melakukan makar jahat itu merasa aman dari azab Kami dengan
dicabut kenikmatan yang ada pada mereka secara berangsur-angsur hingga
mereka binasa?’.”
Perhatikanlah, tidak ada seorang Arab pun yang
dapat menguasai seluruh bahasa dari suku-suku dan kabilah-kabilah Arab,
baik dari segi lafadz maupun dialek. Sementara itu, al-Qur’an memuat
bahasa-bahasa tersebut.
Tidak hanya itu, di dalam al-Qur’an
didapati susunan bahasa (nahwu) yang beragam berdasarkan tata bahasa
berbagai suku dan kabilah. Ini semua menunjukkan bahwa al-Qur’an
bukanlah buatan makhluk, melainkan betul-betul datang dari Allah k,
pencipta manusia dan Rabb alam semesta.
2. Seluruh lafadz al-Qur’an berada pada puncak kefasihan
Isim
dalam al-Qur’an semuanya fasih. Begitu juga fi’il dan huruf, semuanya
fasih. Bahkan, ayat Alif Lam Mim juga fasih. Inilah kekhususan
al-Qur’an. Tidak ada seorang Arab pun (pada saat turunnya al-Qur’an)
yang menemukan celah untuk mengkritik dan menjelek-jelekkan lafadz
al-Qur’an. Bahkan, al-Walid sempat berujar, padahal dia musyrik,
“Sungguh, pada ucapan ini ada kelezatan. Begitu elok, bagai pohon
rindang yang bertaburan buah…. Ucapan ini demikian tinggi tiada
terungguli.”
3. Tidak ada pertentangan di dalamnya
Makna
luas yang dikandung oleh al-Qur’an, baik dalam hal akidah, akhlak, dan
pembentukan pribadi, maupun aturan-aturan hukum/syariat, semuanya
sempurna dan tidak saling bertentangan. Berbeda halnya dengan ucapan
manusia yang selalu memiliki kekurangan, sering bertentangan, dan tidak
sesuai dengan kenyataan. Terlebih pembicaraan yang menyangkut perkara
gaib, sedikit sekali yang tepat dan sesuai dengan kenyataan.
4. Al-Qur’an mempunyai ketinggian sastra
Al-Qur’an
memiliki balaghah dan bayan yang tinggi. Lafadz-lafadz dan
makna-maknanya serta keterkaitan antar makna dan antar lafadz demikian
menakjubkan. Susunan kata dalam tiap ayat, susunan ayat demi ayat, dan
terhimpunnya sejumlah kalimat dalam satu ayat menunjukkan bahwa
al-Qur’an memiliki balaghah yang tinggi. Tidak mungkin jin dan manusia
mendatangkan kalimat yang banyak yang semuanya menempati tingkatan
balaghah dan sastra yang tinggi.
Terkait dengan hal ini, kita
mendapati bahwa walaupun telah ditulis oleh ratusan ulama, tafsir-tafsir
al-Qur’an belum berhasil menguak secara terperinci seluruh rahasia yang
tersimpan dalam al-Qur’an. Ilmu tafsir adalah ilmu yang tiada habisnya,
seperti sifat kalamullah yang disebutkan dalam firman-Nya,
ﮋ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﮊ
“Katakanlah,
‘Seandainya samudra dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan
kalimat-kalimat Rabb-ku, niscaya samudra itu kering sebelum berakhirnya
kalimat-kalimat Rabb-ku, bahkan walaupun didatangkan lagi tinta sebanyak
itu’.” (al-Kahfi: 109)
5. Al-Qur’an memiliki kekuatan ajaib terhadap jiwa
Tidak
ada ucapan manusia yang memiliki daya tarik dan kekuatan ajaib seperti
yang dimiliki al-Qur’an. Kisah keislaman ‘Umar bin al-Khaththab adalah
salah satu contoh. Ketika itu, ia mendapat kabar bahwa saudarinya,
Fathimah s, masuk Islam. Bagai tersambar petir, ‘Umar yang semula hendak
membunuh Rasulullah n, seketika itu juga mengubah haluan menuju
kediaman Fathimah. Karena kegeraman yang tidak tertahan dan gejolak
amarah yang meluap, tangan kekar ‘Umar melayang ke wajah Fathimah hingga
wajah itu pun bersimbah darah. Namun, begitu ia membaca ayat-ayat suci
dalam surat Maryam, hatinya langsung lembut. Akhirnya, ia pun masuk
Islam.
Tidak luput dari ingatan kita perihal Fudhail bin ‘Iyadh ,
seorang imam di Makkah yang tepercaya, wara’, ahli ibadah, dan
meriwayatkan banyak hadits. Dahulu ia adalah seorang pembegal yang
sangat ditakuti di perlintasan antara Abyurd dan Sarkhas. Tentang kisah
tobatnya, diceritakan bahwa seperti biasa, Fudhail ingin merampok pada
suatu petang. Lewatlah serombongan manusia yang bersama mereka ada
keledai betina yang putih bersih.
“Mari kita bergegas
meninggalkan tempat ini. Jangan sampai kita disergap Fudhail sehingga
barang-barang kita dirampas!” seru mereka.
Fudhail mendengar seruan itu. Dia begitu sedih. Dia merenung lalu bergumam, “Mereka sangat takut kepadaku.”
Fudhail
lalu menghampiri rombongan itu, mengucapkan salam, dan menawarkan
persinggahan. “Tinggallah bersamaku malam ini. Kalian akan aman dari
kejahatan Fudhail,” katanya.
Begitu gembira mereka dengan tawaran
ini. Rupa-rupanya mereka mengenal Fudhail sekadar nama. Nama Fudhail
memang angker di kalangan musafir. Kemudian, Fudhail keluar rumah
mencari makan untuk para tamunya. Saat kembali, ia mendengar seseorang
membaca,
ﮋ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ؟ﮊ
“Belumkah
tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hatinya
karena mengingat Allah dan mengingat kebenaran yang telah turun?”
(al-Hadid: 16)
Hati Fudhail luluh mendengar ayat ini. Sontak ia menjerit, “Benar! Sekaranglah waktunya, ya Rabb-ku.”
Begitulah
al-Qur’an. Karena kekuatan yang ada di dalamnya, menyimaknya akan
menumbuhkan kepasrahan jiwa, kecuali pada orang-orang yang lebih suka
menuruti hawa nafsu.
Di antara rahasia kekuatan al-Qur’an adalah
ayat-ayatnya tidak dipisah-pisahkan berdasarkan muatan atau
kandungannya. Ayat tentang akidah tidak dipisahkan dalam surat khusus,
begitu pula ayat-ayat tentang akhlak, hukum syariat, dan sebagainya.
Namun, muatan dalam satu surat sangat kompleks dan beragam. Bahkan,
dalam satu ayat terhimpun banyak sisi pembahasan.
Ayat yang
membicarakan orang yang beriman, diikuti oleh ayat yang membicarakan
orang munafik, ayat yang menyinggung jiwa, ayat tentang akidah, ayat
tentang kisah umat-umat terdahulu, ayat tentang peristiwa di masa
mendatang, ayat tentang janji, ayat tentang ancaman, ayat tentang surga,
ayat tentang neraka, ayat tentang hukum-hukum tertentu, ayat tentang
asal-muasal penciptaan manusia, dan sebagainya. Sangat beragam.
Sebab,
jiwa manusia pun sangat beragam. Bahkan, jiwa satu orang selalu
berbolak-balik. Saat ini jiwanya lebih mudah terpengaruh oleh ayat
janji-janji, lain waktu lebih cocok dengan ayat-ayat ancaman, kisah umat
terdahulu, penyebutan jannah dan neraka, dst. Ini menunjukkan bahwa
al-Qur’an bukanlah buatan manusia, melainkan ucapan Allah Yang Maha
Mengetahui seluk-beluk semua ciptaan-Nya.
Di antara manusia ada
juga yang mudah terpengaruh oleh intonasi, tinggi-rendahnya nada, dan
irama bacaan. Kekuatan ini juga terdapat dalam al-Qur’an. Seorang mantan
penyair kenamaan, Labid bin Rabi’ah, ditanya, “Mengapa engkau tiada
lagi melantunkan bait-bait syair dan qashidah?” Ia menjawab, “Surat
al-Baqarah dan Ali ‘Imran telah mencukupi jiwaku dari menikmati qashidah
dan syair.”
6. Di dalam al-Qur’an terdapat pembahasan rinci yang bersifat gaib
Ada
beberapa hal di dalam al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi kita n yang
tidak mengerti baca tulis. Hal tersebut baru terbukti di era teknologi
sekarang ini.
Hal ini oleh para ilmuwan disebut sebagai keajaiban
sains. Keajaiban sains dalam al-Qur’an adalah benar adanya. Urusan yang
secara kasat mata tidak diketahui oleh para sahabat pada masa
itu—tetapi mereka pahami makna globalnya—ternyata baru terbukti
hikmahnya yang agung secara lebih nyata dan rinci pada era ini.
Akan
tetapi, harus kita ingat, hasil penelitian dan pengkajian manusia harus
tunduk kepada al-Qur’an, bukan sebaliknya. Sebab, al-Qur’an adalah haq
(benar) dan berasal dari Allah k, sedangkan ilmu sains dan teknologi
adalah hasil rekayasa manusia.
7. Al-Qur’an menumbuhkan kecintaan kepada Allah
Setiap
kali orang yang beriman membaca dan mendalami al-Qur’an, akan semakin
bertambah kecintaannya kepada Allah k. Ini kembali pada perihal keimanan
dan pada sifat al-Qur’an sebagai sumber petunjuk dan penyembuh bagi
kalbu. Semua perintah, larangan, dan berita dalam al-Qur’an adalah
penyembuh bagi apa yang ada dalam jiwa. Allah k berfirman,
ﮋ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧﯨ ﮊ
“Katakanlah, ‘al-Qur’an adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
Ini
adalah kekuatan khusus bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’an akan
membimbing dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, baik
dalam masalah ilmiah maupun amaliah. Setiap kali terjadi fitnah dan
kerancuan, seorang mukmin akan memiliki bashirah untuk menyelesaikannya.
Sumber: Ceramah asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh tentang mukjizat al-Qur’an.